kritik dan saran


Free chat widget @ ShoutMix
News Update :

Random Template

Popular Template

Text

mendraist

mendraist
hidup bukan untuk memperjuangkan diri sendiri

Archives

Blogger News

Selamat datang di blog "mendra digital diary." Silahkan tinggalkan kesan dan pesan Anda pada kolom kritik dan saran di samping ini. Satu lagi, jangan lupa untuk mengisi polling hari ini. Terima kasih.

Yahoo Messenger News

Education is the way to change your habit (azizul mendra:2009)

jangan menyerah

Kamis, 09 Juli 2009 Kamis, Juli 09, 2009


Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalkani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa

matahariku

Minggu, 05 Juli 2009 Minggu, Juli 05, 2009

apalagi yang kausedihkan bila jejak langkah yang kautinggalkan membuat kebanggan
apalagi yang kausedihkan bila bahagiamu adalah hasil dari kesabaran dalam penderitaanmu kemaren.

tuhanku, bila itu yang kau tanyakan, sungguh bahwa aku telah lupa.
hati ini hanya ingat apa yang akan terjadi esok, bukan apa yang telah berlalu.
tuhanku, ajari aku bersabar untuk menunggu hari esok dan ajari aku ikhlas mengenang dan melepas masa lalu.

karena aku yakin langkah ini menuju apa yang terbaik untukku.
tuhanku, matahariku sudah terbit, sudah siap menyinari bumi.

MERANTAU : The Transformation Minangkabau New Cultural Value

Rabu, 24 Juni 2009 Rabu, Juni 24, 2009

-->
Abstract
Merantau is the characteristic of Minangkabau culture. However, there is just a little bit scientific study discuss about it. Moreover, merantau is the unique social mobility activity which is not all of the ethnics in Indonesia owns it. Apparently, merantau becomes a cultural socio trans study that can be explained scientifically by social science.
This research is done in Pekanbaru which is Minang immigrant is the second biggest ethnic from the whole ethnics in Pekanbaru. It is the interesting thing because Minang immigrant is usually as the minority. This research uses the qualitative approach with case study research method. Therefore, the researcher uses the the concept about culture, identity and the definition of merantau as the conceptual theory and framework.
The research description in the field finds that merantau is the culture product of Minangkabau ethnic since long time ago. This research finds the polarity of Minangkabau immigrant type one decade late. The transformation of Minangkabau values in the foreign country causes the emerging or new paradigm about Minangkabau by the immigrant today.
Minang culture empowerment by the origin region (West Sumatera) and the leader of the ethnic in hometown is important. Due to the researcher find many weaknesses in preserving Minangkabau culture in rantau (Pekanbaru)

Keyword : Merantau, Pekanbaru, Minangkabau.




1 This research paper is conducted by Azizul Mendra and Rica Hartami. Presented by Azizul Mendra.

Bali is Bali

Rabu, Juni 24, 2009


Bali, this is for the second times that I have been here. Many things is happened. I still remember, when I came for the first time, I was...........................



(I am sorry, I have to work, so I cannot tell to you now)

indonesia bisa!

Minggu, 01 Juni 2008 Minggu, Juni 01, 2008

Bangkit Itu… Susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu… Takut
Takut Korupsi
Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu… Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan Prestasi
Bangkit itu… Marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu… Tidak Ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu… Aku
Aku…untuk Indonesiaku

kenapa harus memaksakan diri?

Rabu, 07 Mei 2008 Rabu, Mei 07, 2008

mengapa harus memaksakan diri? tadi sore aku melihat ibu itu membawa anaknya ke sebuah production house (selanjutnya disebut PH) yang katanya juga merupakan sekolah untuk mengasah bakat dan ujung-ujungnya mendapatkan popularitas dan materi yang berlimpah. ibu itu datang bersama anak perempuannya. umur ibu itu kira-kira 40-an tahun, tapi wajahnya sudah lebih tua daripada umurnya karena secara kasat mata aku melihat bahwa penuaan dini itu terjadi lantaran susahnya memperjuangkan kehidupanlah yang membuatnya seperti itu. dan anaknya, kira-kira berumur 8 tahun.
dia bercerita dengan pemilik PH tentang uang yang harus dikeluarkan untuk sekolah anaknya itu. ternyata untuk tiga bulan belajar si ibu harus mengeluarkan 1,5 juta rupiah. angka yang tidak sedikit untuk keluarganya karena keluhan/merasa keberatan itu aku dengar saat itu. tapi, lantaran sayang pada anak dia kuperhatikan masih memaksakan diri untuk membayar dengan cara meminta kompensasi dengan cara meminta kemudahan untuk membayarnya. mungkin anaknya memang berbakat di dunia seni, begitu pikirku sehingga si ibu itu merelakan dan memaksakan diri untuk membayarnya.
anaknya tidak terlalu cantik. memang, untuk menjadi artis tidak harus cantik. kita melihat mpok atiek juga tidak cantik, omas juga tidak cantik, tapi mereka bisa menjadi artis. menjadi artis itu membutuhkan karakter yang tepat dan harus sinkron dengan dunia seni. dan itu belum bisa aku nilai dari si anak itu karena beretemu dia baru kali itu.
lama aku berfikir tentang apa yang menyebabkan bangsaku ini miskin. akhirnya aku temukan juga jawabannya yaitu tindakan atau perilaku yang konsumerisme yang tidak tepat. seperti contoh diatas, si ibu memaksakan diri untuk membayar uang yang besar kepada PH yang diyakininya mampu menjadikan anaknya sebagai asset untuk keluarga. anaknya (mungkin) dijadikan komoditas bisnis untuk mendapatkan uang. jika itu yang terjadi, maka kehancuran masa depan si anak tidak lama lagi akan muncul. bijaksananya, alangkah lebih baik jika si ibu menggunakan uang itu untuk bisnis yang lebih jelas. membuka home indsutry yang tepat dan bonafit. tapi, aku pikir dia tidak punya ilmu untuk itu. contoh yang memiskin orang indonesia lainnnya adalah membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. banyak keluarga di indonesia membelanjakan uangnya untuk hal yang di perlu. setiap ada uang sedikit dari hasil jerih payahnya dia beli tv, beli kulkas, beli kipas angin. padahal itu tidak kebutuhan pokok yang jika tidak di penuhi akan membunuhnya. bijaksananya lagi, lebih baik dia gunakan untuk mengembangkan usaha yang dia punya.
kebijaksanaan diataslah yang di ajarkan oleh orang kaya kepada anaknya karena menurut Robert T. Kiyosaki apa yang diajarkan ayah orang kaya tentang uang kepada anak mereka berbeda dengan apa yang diajarkan oleh ayah orang miskin tentang uang kepada anaknya sehingga si kaya menjadi lebih kaya dengan anaknya dan simiskin semakin miskin dengan perangai anaknya. ayah orang kaya mengajarkan menambah asset, ayah miskin mengajarkan menambah beban hidup yaitu dengan perilaku konsumerisme tidak tepat itu.
hari ini aku menulis ini untuk menjadi bodoh, untuk membuat penyesalan, dan untuk menjadi gila untuk diriku sendiri. bukan untukmu, bukan untuk dia, dan bukan untuk mereka. harus diingat ini adalah mendraisme, ideologi berbahaya!

hidup adalah pertanyaan

Rabu, Mei 07, 2008

lamaku perhatikan pahlawan itu. ku baca berbagai puisinya, ku baca bukunya, ku dengar suaranya, ku lihat fotonya, dan banyak hal yang kuperhatikan. ternyata, tidak dapatku mengerti apa yang dia tulis, teriakan, perjuangkan dan lakukan itu. konon kabarnya dia begitu untuk memberikan semangat perlawanan yang mewakili perasaan rakyat indonesia hari itu. andai memang begitu, bagiku dia terlalu sombong dan menjadi over confident jika itu yang memotivasinya. kenapa? baca apa yang aku tulis, ikuti apa yang aku pikirkan.
pertama. saat itu--juga saat ini--masih banyak merasa nyaman dengan kondisi seburuk apapun yang terjadi di negara ini. jika dulu ada yang merasa terjajah dan tertindas, itu hanya sebagian, bung! sebagian lainnya malah merasa nyaman dengan situasi demikian karena masih bisa makan enak, tidur pulas, dan bergembira ria mengisi hari-harinya karena dengan keparat (penjajah) itu dia berkawan bukan berlawan. tidak peduli baginya menghianati bangsa sendiri. seperti itu juga hari ini. hari ini masih banyak yang merasa nyaman dimanapun dia berada karena dilindungi oleh negara, dilindungi oleh keparat lainnya, atau anda sendiri yang melindunginya. sebagian mereka itu hari ini juga masih banyak yang tidur nyenyak dan makan enak. tidak sadar mereka bahwa juga telah menghianati bangsa sendiri, durhaka kepada ibu mereka yaitu ibu pertiwi. padahal tetanggaku ada yang tidak sanggup beli nasi, tidak dapat tidur nyenak, dan tidak punya masa depan. siapa hari ini yang pantas sebut pahlawan? maka perilakunya tidak jauh beda dengan pendahulunya itu. di depan publik mereka memainkan topeng. ironisnya, topeng yang dipakainya itu lebih dari satu. sampai kapan itu terjadi? sampai mati! jadi buat apa mengkultuskan pahlawan itu terlalu berlebihan jika yang dia perjuangkan bukan seluruh ummat, tapi sekelompok ummat saja.

kedua, ada ketidakikhlasan. masih ingat dengan kata-kata/slogan seperti ini: "djas merah" atau "djangan sekali-kali melupakan sejarah" apa gunanya ini? untuk membuat mereka harus di kenang sepanjang masa, ingin merasa di hargai keringatnya itu, dan ingin sebagainya. tuhanku, semoga kau jaga aku dari keinginan itu.

tahun ini, bangsa ini memperingati seratus tahun kebangkitan nasional. slogan itu dipajang dimana-mana. disebut dalam setiap pidato. dipakai dalam kampanye. maka, semakin dekatlah dia dengan aksi membohongi diri sendiri. untuk apa? tanya pada ombak yang menghempas tiap hari yang tidak maknai esensinya. tanya pula pada matahari yang selalu membagi cahanya siang dan malam, bukan hanya siang, bung! karena malam dia menjadi bulan yang indah itu, tapi tidak pernah kita tanyakan mengapa dia begitu. hidup adalah pertanyaan. maka, hakikat mencari pertanyaan adalah untuk mencari kebenaran. ada tiga metode mencari kebenaran itu. pertama, dengan filsafat. mencari kebenaran dengan metode ini maka kita harus menjungkirbalikan badan, memutar otak 180 derajat, dan cara gila lainnya. tapi, tidak akan pernah mendapatkan kebenaran abadi. semua di ukur dengan subjektifitas masing-masing dengan parameter relativitas sehingga hancurlah dunia ini. kedua, dengan metode ilmiah. diciptakanlah lembaga yang relevan untuk mencari kebenaran. semuanya orang-orang pilihan. tapi hasilnya hanya mampu mengkotak-kotakan pikiran ini. ada ilmu sosial dan ada ilmu alam, maka akhirnya tidak ada kesatuan (unity). ketiga, dengan agama. cara ini tidak mendewakan rasionalitas dan emosionalitas pribadi, melainkan jembatan horizontal antara kita dengan tuhan. tidak bisa di tentang, tidak bisa diperdebatkan, maka inilah kebenaran absolut. akhirnya, cara apa yang kita pilih? jawab sendiri karena kita sebagian telah memilih, tapi sebagian lainnya masih belum karena apatis dengan hal-hal seperti ini.

hari ini aku menulis ini untuk menjadi bodoh, untuk membuat penyesalan, dan untuk menjadi gila untuk diriku sendiri. bukan untukmu, bukan untuk dia, dan bukan untuk mereka. harus diingat ini adalah mendraisme, ideologi berbahaya!

Friendster News

Azizul Mendra, Lulus dari Jurusan Ilmu Politik pada tahun 2009 dengan ketertarikan pada kajian ekonomi politik. Selain aktiv berorganisasi hingga menjadi pimpinan di sana, sejak masa kuliah aktiv menulis di media massa baik lokal maupun nasional. Pernah bekerja sebagai pelaku pariwisata professional selama di Denpasar 2009, perbankan 2011 dan membangun usaha sektor sendiri UMKM di Sumatera Barat dan Jawa Barat tahun 2010-2011. Setelah itu berkarir pada Bank Mega Syariah divisi unit usaha Mikro hingga akhir tahun 2011.

Selain seringkali memenangkan kompetisi proposal yang di danai DITJEN DIKTI Kemendiknas terkait kegiatan program masyarakat hingga menjadi Finalis Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) di Malang, Jawa Timur, prestasinya juga sebagai bintang aktivis kampus 2009, mahasiswa berprestasi FISIP, Univ. Andalas 2007 dan dipilih sebagai pemakalah dalam laporan penilitian terkait perantau Minangkabau di Pekanbaru pada acara Konferensi ke-9 Ilmuan Sosiologi Se-Asia Pasifik 2009 di Bali atas kerjasama Departemen Sosiologi Univ. Indonesia dengan Asia Pacific Sociological Association (APSA).
 

© Copyright digital diary 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.