Popular Template
Text
mendraist
hidup bukan untuk memperjuangkan diri sendiri
Blogger News
Yahoo Messenger News
Dono Ilmu News
MERANTAU : The Transformation Minangkabau New Cultural Value
Rabu, 24 Juni 2009 Rabu, Juni 24, 2009
Bali is Bali
Rabu, Juni 24, 2009
indonesia bisa!
Minggu, 01 Juni 2008 Minggu, Juni 01, 2008
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu… Takut
Takut Korupsi
Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu… Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan Prestasi
Bangkit itu… Marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu… Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu… Tidak Ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu… Aku
Aku…untuk Indonesiaku
kenapa harus memaksakan diri?
Rabu, 07 Mei 2008 Rabu, Mei 07, 2008
hidup adalah pertanyaan
Rabu, Mei 07, 2008
dengar suaranya, ku lihat fotonya, dan banyak hal yang kuperhatikan. ternyata, tidak dapatku mengerti apa yang dia tulis, teriakan, perjuangkan dan lakukan itu. konon kabarnya dia begitu untuk memberikan semangat perlawanan yang mewakili perasaan rakyat indonesia hari itu. andai memang begitu, bagiku dia terlalu sombong dan menjadi over confident jika itu yang memotivasinya. kenapa? baca apa yang aku tulis, ikuti apa yang aku pikirkan.
ur nyenyak dan makan enak. tidak sadar mereka bahwa juga telah menghianati bangsa sendiri, durhaka kepada ibu mereka yaitu ibu pertiwi. padahal tetanggaku ada yang tidak sanggup beli nasi, tidak dapat tidur nyenak, dan tidak punya masa depan. siapa hari ini yang pantas sebut pahlawan? maka perilakunya tidak jauh beda dengan pendahulunya itu. di depan publik mereka memainkan topeng. ironisnya, topeng yang dipakainya itu lebih dari satu. sampai kapan itu terjadi? sampai mati! jadi buat apa mengkultuskan pahlawan itu terlalu berlebihan jika yang dia perjuangkan bukan seluruh ummat, tapi sekelompok ummat saja.
kan hanya siang, bung! karena malam dia menjadi bulan yang indah itu, tapi tidak pernah kita tanyakan mengapa dia begitu. hidup adalah pertanyaan. maka, hakikat mencari pertanyaan adalah untuk mencari kebenaran. ada tiga metode mencari kebenaran itu. pertama, dengan filsafat. mencari kebenaran dengan metode ini maka kita harus menjungkirbalikan badan, memutar otak 180 derajat, dan cara gila lainnya. tapi, tidak akan pernah mendapatkan kebenaran abadi. semua di ukur dengan subjektifitas masing-masing dengan parameter relativitas sehingga hancurlah dunia ini. kedua, dengan metode ilmiah. diciptakanlah lembaga yang relevan untuk mencari kebenaran. semuanya orang-orang pilihan. tapi hasilnya hanya mampu mengkotak-kotakan pikiran ini. ada ilmu sosial dan ada ilmu alam, maka akhirnya tidak ada kesatuan (unity). ketiga, dengan agama. cara ini tidak mendewakan rasionalitas dan emosionalitas pribadi, melainkan jembatan horizontal antara kita dengan tuhan. tidak bisa di tentang, tidak bisa diperdebatkan, maka inilah kebenaran absolut. akhirnya, cara apa yang kita pilih? jawab sendiri karena kita sebagian telah memilih, tapi sebagian lainnya masih belum karena apatis dengan hal-hal seperti ini.Denias, senandung di atas awan
Sabtu, 03 Mei 2008 Sabtu, Mei 03, 2008
Hari ini saya minta maaf karena untuk sementara waktu belum bisa opini terhadap salah satu film terbaik sepanjang massa ini. Jadi, pujian dan opini di bawah ini hanya saya kutip dari tulisan lain. selamat membaca Film : Denias, Senandung di Atas Awan
Sutradara : John De Rantau
Skenario : Jeremias Nyangoen, Masree Ruliat, Monty Tiwa, John De Rantau
Pemain : Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Michael Jakariminela, Audry Papilaya, Pevita Pearce
Produksi : Alenia Pictures - EC Entertainment
Nama saya Denias. Mama saya suruh saya sekolah. Karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah. Demikian tulis Denias, di atas buku yang diberikan Bu Sam, guru sebuah sekolah fasilitas. Tulisan itu menyiratkan impian dan semangat dari seorang anak untuk dapat bersekolah. Impian yang juga dimiliki oleh banyak anak di Indonesia saat ini.
Film Denias, Senandung di Atas Awan ini memang film yang mengusung tema tentang dunia pendidikan. Sebuah langkah yang terbilang berani, di tengah derasnya tema pop seperti horor dan cinta remaja. Mengingat produser film ini Alenia Pictures dan EC Entertainment adalah "pemain" baru di kancah perfilman nasional. Mereka menyebutnya obsesi dan idealisme untuk menampilkan sesuatu yang jarang tersentuh dan berbeda.
Film ini berdasarkan kisah nyata dari seorang anak Papua bernama Janias yang kini bersekolah di Darwin, Australia. Sosoknya ditransfer menjadi tokoh Denias (diperankan Albert Fakdawer yang selama ini dikenal sebagai juara sebuah kontes bakat bernyanyi sebuah stasiun televise). Denias berasal dari sebuah suku yang tinggal di kaki gunung Jayawijaya yang selalu diselimuti kabut. Dari sana dia membangun cita-cita melihat dunia.
Cita-cita itu juga berkat dorongan tiga orang. Pertama ibunya (diperankan Audry Papilaya) yang selalu ingin anaknya bisa sekolah. Kedua Pak guru (Mathias Muchus) yang mengajar di sekolah darurat. Dari guru itu Denias mendapat kisah dan semangat Jack dan Kacang Polong itu. Dia ingin seperti Jack yang melihat dunia setelah memanjat pohon kacang yang tumbuh ke langit. Pohon itu adalah pendidikan.
Satu lagi Maleo (diperankan Ari Sihasale) seorang tentara yang selalu membantunya belajar. Darinya Denias jadi tahu bahwa Papua adalah bagian dari wilayah Indonesia yang luas. Sayang, cita-cita itu mendapat tantangan dari adat. "Hanya anak orang yang punya uang banyak yang bisa sekolah di sana." Sebuah diskriminasi yang juga masih dirasakan anak-anak Indonesia di wilayah lain. Bahkan ayah (Michael Jakariminela) Denias lebih suka anak lelaki membantunya di ladang. Perut lebih penting dari otak.
Denias nyaris putus asa. Apalagi kemudian ketiga orang yang menyemangatinya satu persatu pergi. Namun pesan ketiga orang itu agar Denias tetap bersekolah membangkitkannya. Dia pun kabur dari rumah. Tujuannya adalah bersekolah, meski untuk itu dia harus melewati gunung, hutan, sungai dan lembah hingga berhari-hari. Bekalnya adalah sebuah peta Indonesia dari kardus bekas yang diberikan Maleo. Ternyata, pengorbanan itu pun belum cukup.
Denias sempat terlunta lunta di kota dan bersahabat dengan anak jalanan sebelum akhirnya dia bertemu bu guru Sam (Marcella Zalianty). Kepada guru itu Denias menuliskan kalimat di atas. Film ini memang belum berhenti sampai di sini. Perjalanan Denias untuk sekolah masih panjang. Namun penonton pasti sudah bisa menebak akhir cerita ini.
Film ini tidak saja mendramatisasi perjuangan seorang anak, tetapi juga potensi alam Papua. Hutan yang masih perawan, pegunungan yang berselimut salju, hewan langka serta adat primitif mendapat porsi cukup banyak di film ini. Dari sini juga latar belakang perlakuan diskriminasi yang dialami Denias ditampilkan. Potensi ini mungkin hanya ditemui di film Garin Nugroho yakni Biarkan Aku Menciummu Sekali Saja dan Mencari Madona.
Sang sutradara, John De Rantau mengakui dirinya memang ingin menyajikan alam Papua lengkap dengan potret kebudayaannya di film pertamanya ini. John sesungguhnya juga terlibat dalam kedua film Garin tersebut. Namun menurutnya ini film 35mm yang ber-setting alam Papua. Casting para pemain yang sebagian besar berasal dari Indonesia Timur juga mendukung cerita. Pujian terutama bagi Albert yang berhasil menghidupkan sosok Denias dengan sangat cemerlang.
Hanya saja, kisah ini mengalami kegagapan dalam bertutur. Skenario yang dikerjakan oleh Jeremias Nyangoen, Masree Ruliat, Monty Tiwa, serta John De Rantau kurang dapat menjembatani para tokoh dengan penonton. Mengapa ibu Denias begitu ingin anaknya sekolah? Mengapa Denias tiba-tiba terlibat dengan anak jalanan? Apa sebenarnya perjuangan ibu Sam agar Denias bisa diterima masuk sekolah? Padahal dia sudah ditentang kepala suku.
Kekurangan ini cukup mengganggu aliran cerita, sehingga terkesan lambat dan terputus-putus. Untunglah, terselip beberapa dialog yang lucu dan cerdas di film ini. Seperti ketika Denias melihat papan reklame sebuah produk daging impor yang dikiranya gambar anjing raksasa. Atau mengapa ayah Denias tidak mau membantunya saat berkelahi dengan kepala suku.
Selain itu indahnya alam Papua adalah sebuah kekayaan yang sayang untuk dilewatkan Apalagi itu didukung score film (digarap Dian HP) yang menghidupkan dunia anak-anak yang polos, bersahaja sekaligus penuh semangat. Semangat ini juga menjadikan kisah ini segar dan berbobot. Impian Denias untuk menjadi Jack dan Kacang Polong adalah impian dari banyak anak Indonesia. Karena itu, film yang akan mulai tayang pada 19 Oktober nanti layak untuk menjadi tontonan seluruh keluarga Indonesia. Karena impian Denias adalah impian kita juga. [Pembaruan/Stevy Widia]
sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2006/10/15/Hiburan/hib01.htm
the pursuit of happyness
Sabtu, Mei 03, 2008
Film yang mengisahkan kehidupan sebenarnya dari seorang Christopher Gardner, seorang tuna wisma dan single parents yang berjuang dalam hidup bersama anaknya hingga berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan stockbroker ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco. Dari seorang yang miskin hingga menjadi jutawan, pastilah sebuah kisah yang sudah pasti akan mengundang rasa kagum dan menarik untuk kita ketahui. Sebuah moment yang yang mampu menyentuh emosional terdalam dan bersatu dalam sebuah konteks kehidupan spritual akan sebuah arti kehidupan itu sendiri.
Film ini secara tiba-tiba mengingatkan saya akan suatu moment dengan bekas atasan saya dahulu. Dalam suatu perjalan saya bersama Pak Thamrin (former : Dirut PT Pembangunan Pluit Jaya) mengatakan kepada saya
“Setiap orang pasti akan melewati satu point dimana dia akan menuju terus kebagian paling dasar dari hidupnya. Dan melewati satu point lagi yang akan selalu menuju bagian teratas dari hidupnya. Tapi kita hanya tidak tahu kapan dan dimana point tersebut berada.. Jadi jeli-jeli San lah dalam melihat hidup ini… karena hanya akan ada satu point yang anda akan lewati.. jangan pernah pernah menyerah maupun lupa diri saat melewati cek point anda!”
Kata-kata tersebut masih saya ingat hingga saat ini. Selama hidup saya, tidak pernah absen sekalipun saya bertanya dalam hati. Atau sekadar memflasback dan memperhatikan, did I miss my checkpoint? Where that moment which gonna change my life forever? Kebiasaan yang seakan menjadi imsonia bagi saya setiap kali merenung dan membayangkan seperti apa kehidupan saya di 10 tahun mendatang?
Mungkin ada sedikit kemiripan dengan pesan yang berusaha disampaikan oleh Chris Gardner dalam film ini. Dimana dalam suatu kesempatan di film tersebut, Chistoper’s Son yang diperankan oleh anak Will Smith sendiri menceritakan sebuah kisah lucu :
“There was a man who was drowning, and a boat came, and the man on the boat said “Do you need help?” and the man said “God will save me”. Then another boat came and he tried to help him, but he said “God will save me”, then he drowned and went to Heaven. Then the man told God, “God, why didn’t you save me?” and God said “I sent you two boats, you dummy!”
Intinya adalah Tuhan biasanya mendatangkan bantuan lewat cara-cara yang terkadang kita sendiri tidak mengetahui bahwa itu adalah bantuan. Karena bentuknya yang tidak berupa mukzizat secara langsung dan kasat mata. Tapi hanya bisa kita pahami pada saat kita memandang kebelakang hidup kita suatu saat. Sama halnya dengan Check point yang bekas atasan saya katakan. Perlu suatu kesadaran diri dan kejelian dalam melihatnya.



